DEKAN FAKULTAS SYARI’AH IAIN BUKITTINGGI MENJADI NARASUMBER PADA ACARA BEDAH BUKU “MENEMANI MINORITAS”

Rabu, 3 Maret 2021, Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Bukittinggi mengadakan acara bedah buku secara Daring. Buku yang dibedah adalah karya Prof. Ahmad Najib Burhani, Ph.D, seorang Peneliti Senior LIPI yang berjudul “Menemani Minoritas; Paradigma Islam tentang Keberpihakan dan Pembelaan kepada yang Lemah.” Buku yang sudah dibedah dan dibahas di beberapa tempat dan kampus ini mendapat respon yang sangat luar biasa dalam acara Bedah Buku kali ini.

Dekan Fakultas Syari’ah IAIN Bukittinggi, Dr. H. Ismail, M.Ag. yang juga Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Bukittinggi dipercaya untuk menjadi salah satu pembedah dalam acara bedah buku ini. Dr. H. Ismail, M.Ag. disandingkan dengan Rektor IAIN Bukittinggi, Dr. Ridha Ahida, M.Hum dan Direktur PUSAD (Pusat Studi Agama dan Demokrasi) Paramadina, Ihsan Ali Fauzi Ph.D.

Menurut Dr. H. Ismail, M.Ag., buku yang berjudul “Menemani Minoritas: Paradigma Islam tentang Keberpihakan dan Pembelaan kepada yang Lemah” lahir dari rasa empati penulisnya akan nasib minoritas (terutama Ahmadiyah dan Syiah) di Indonesia yang tidak berhasil mendapatkan hak-haknya dalam menjalankan ajaran agama yang diyakininya.

Penulis dalam bukunya ini mencatat sejumlah tindakan intoleran yang dihadapi oleh kelompok minoritas, antara lain: Operasi “Sajadah” di Jawa Barat oleh meliter terhadap Ahmadiyah, pembakaran masjid di Tolikara Papua tahun 2015 oleh kelompok kristen GIDI, pembakaran gereja di Singkil Aceh, pelarangan pendirian Masjid Muhammadiyah di wilayah Bireun Aceh, dan tindakan-tindakan pengusiran terhadap kempompok atau orang-orang penganut paham atau agama yang berbeda dengan kelompok mainstream (mayoritas) di berbagai tempat.

Burhani dalam penelitiannya menggunakan pendekatan ke-Indonesiaan dan ke-Muhammadiyahan-nya, atau berkomitmen kepada sebuah etika islamiyah yang mendalam.  Judul yang ditampilkannya, menunjukkan bahwa pembelaan yang dilakukan oleh penulisnya terhadap kelompok minoritas, tidak hanya mengedepankan nilai-nilai HAM belaka, namun sebuah pengakuan dan persahabatan yang sekaligus bertitik tolak dari perspektif ke-Indonesiaan dan ke-Islaman yang ramah.” Ungkap Dekan Fakultas Syari’ah ini.

Dr. H. Ismail, M.Ag dalam kesempatan ini menawarkan pendekatan lain untuk mengurai persoalan relasi mayoritas dan minoritas ini yakni pendekatan Maqashid al-Syari’ah atau pendekatan berdasarkan tujuan ditetapkannya hukum (baca syariah) oleh Allah SWT yakni untuk mewujudkan mashlahah dan menolak kemudharatan. Pendekatan ini tidak lagi berkutat kepada pendekatan teks melainkan pendekatan berdasarkan jiwa atau ruh dari syariat agama itu sendiri. Beliau dalam hal ini mengemukakan Hadis Nabi, Suatu hari Rasulullah mendapati rombongan yang mengangkut jenazah lewat di hadapan beliau. Nabi pun berdiri menghormati. Sahabat beliau segera memberi tahu dengan nada seolah protes, “Itu jenazah orang Yahudi.” “Bukankah ia juga manusia?” sahut Rasulullah, HR. Imam Bukhari. Hadis ini menurutnya  dapat menjadi sumber inspirasi bagi kehidupan yang harmoni antara pemeluk agama yang berbeda, baik dianut secara mayoritas begitu juga minoritas. (hdn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *